Press

recent posts

Puisi - Tauladan dari Sang Lebah

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم و رحمة الله و بركاته



Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan Yang Maha Dahsyat, zat yang telah ada sebelum yang lain ada, dan akan tetap ada setelah yang lain tiada.

Shalawat beriring salam semoga senantiasa tercurah kepada seseorang yang selalu bekerja, namun segalanya adalah dalam rangka beribadah dan mencari ridho Allah SWT. semata. Seseorang yang merindukan umatnya, hamba-Nya yang setia, beliaulah yang bernama Muhammad bin Abdullah. Dan tak lupa beserta keluarga, sahabat, dan kita "fans" beratnya yang Insya Allah akan tetap istiqomah di jalan kebenaran hingga akhirul zaman. آمين

Sahabatku, kehidupan kita tidak akan lepas dari pengawasan-Nya. Mulai dari berfikir hingga apa yang kita lakukan, semua tidak akan luput dari kamera CCTV-Nya. Tentu bagi hamba-Nya yang sudah "meletakkan" Rabb dalam hatinya, mereka akan selalu berhati-hati dalam bertindak, senantiasa mengoreksi diri apa saja kesalahan yang telah dilakukan olehnya. Mereka selalu menangis ketika tidak bisa memanfaatkan nikmat yang sudah diberikan-Nya.

Ikhwa... semoga dengan puisi berikut dapat membuka wawasan anda (Walau sebenarnya ini kisah nyata). Puisi ini saya tulis berdasarkan pengalaman saya. Secara singkat, puisi ini terinspirasi dari ceramah Al Ustadz Maulana (yang biasa tayang di Trans TV). Dan pagi itu saya mendengar kata beliau:
"Banyak sekali yang bisa kita contoh dari lebah. Kenapa? Karena lebah makan dari sesuatu yang baik dan menghasilkan hal yang baik pula, yaitu madu."
Dari sanalah, saya dapat inspirasi. Ketika saya ingin minum madu, saya terpikir dengan kata-kata Ustadz Maulana tadi. "Ngelamunlah" saya dan ketika madunya sudah dekat dengan mulut, tetapi nasib ternyata madunya tumpah. hehe... Saya persembahkan puisi dari saya yang berjudul "Tauladan dari Sang Lebah".

Tauladan dari Sang Lebah

Bukankah hidup ini butuh tauladan
Tak cuma insan
Namun sehelai daun dan seonggok hewan
Daku bisa mengambil pelajaran

        Tapi wahai saudaraku
        Duduk manis dulu
        Simaklah dahulu
        Inilah kisahku dengan si pembuat madu

Ketika lantunan musik balonku
Masih mendayu-dayu
Wajah seorang bocah mungil
Yang masih belajar memanggil
Ayah... Ibu...
Di kala bocah ini masih terlihat dungu
Menggemaskan dan lucu
Walau sayang dia pemalu

        Tak terasa tenaga mulai memuncak
        Ingin rasanya diriku dipanggil “kakak”
        Emosiku kan terpaut meninggi
        Dari sinilah ku inginkan inspirasi

Seakan diri bagai jarum jam dinding
Berputar tak hentinya ku berkeliling
Walau kepala sejenak pusing
Di antara orbit jarum ku berotasi
Tak lelah ku mencari
Hmmm... Ke mana angka tiga belas?

        Mengingat tak kan jadi semua itu
        Tanpa karunia dan rahmat-Mu
        Karena segalanya tertuang dalam surat cinta-Mu
        Yang berjudul “lebah” si pembuat madu

Hufft... Sesendok madu di fajar hari
Ku rasa cukup tuk mengawali hari
Kujulur lidahku kan kugapai sendokku
Wahai madu datanglah padaku

        Manisnya hikmah dari sang lebah
        Yang tak pernah lelah mencari nafkah
        Hei Kawan, cobalah lirik mereka
        Apa yang bisa engkau ambil darinya

Makan dari sesuatu yang baik
Namun menghasilkan hal yang baik pula
Tak hanya berkhasiat
Namun juga tersirat nasihat
Demikianlah nikmat dari zat Yang Maha Dahsyat

        Sejenak ku tersadar dari lamunanku
        Senyum lirih sekedar mencibir diriku
        Betapa konyolnya aku di kala itu
        Di saat ku hanya bisa menggerutu
        Namun tak bisa membalas segala karunia-Mu

Tapi kenyataan tak sesuai harapan
Fitrah insan yang tak lepas dari kesalahan
Dan pada akhirnya...
“Aah... ternyata maduku tumpah”
“Ya sudahlah...”


Demikian puisi yang saya buat. Ya, nikmat. Pada dasarnya Allah telah memberikan kita banyak sekali nikmat. Perihal, saya pernah membaca biografi sahabat-sahabat Rasulullah SAW. mereka selalu menangis dikarenakan mereka selalu merasa diri mereka belum maksimal dalam memanfaatkan nikmat yang sudah Allah berikan. "Luar biasa...!" Mereka adalah para sahabat rasul yang mulia, sudah dijaminkan bagi mereka masuk syurga. Kesalahan yang mereka lakukan, seperti salahnya seorang anak kecil. Tidak berdosa. Namun pribadi mereka yang luar biasa, adalah sebuah cahaya bagi Islam.
Nah, kalau kita?[]

Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan, jika anda berkenan, kritik dan saran adalah sebuah perbaikan buat saya. Sekian...
شُكْرًا قَبْل

و السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Puisi - Tauladan dari Sang Lebah Puisi - Tauladan dari Sang Lebah Reviewed by Khyarul Arham on 2:14 PM Rating: 5

3 comments:

  1. wuih madunya tumpah tuh :-P subhanallah...

    ReplyDelete
  2. Mantap... puisinya bermanfaat. Selain indah di kata-kata juga punya informasi penting. :D

    (indramauraga.tk)

    ReplyDelete

Kritik dan saran anda adalah sebuah motivasi bagi kami... Insya Allah. :)
Mengoreksi bukan berarti merasa paling benar, sedang yang lain salah. Merasa paling benar itu salah. Tetapi tidak membenarkan yang benar itu juga salah.... و الله علم

Theme images by chuwy. Powered by Blogger.