Press

recent posts

Kejutan yang Tak Menyenangkan

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Allahummashalli'ala muhammad wa'ala ali muhammad
 
Saat aku sampai di sekolah, kulihat pintunya tertutup. Namun Pak Mahmud, penjaga sekolah yang berhati luhur itu, seperti biasa membukanya dan mengantarku menuju kelas. Di tengah perjalanan, ia berkata dengan nada kecewa, "Anakku, kau terlambat sekali. Saya kira kali ini Pak Guru tidak akan memaafkanmu." Ia berulang kali mengucapkannya lalu pergi meninggalkan aku yang sedang galau.

Pak Guru tidak mengizinkan aku masuk ke kelas dan menyuruhku menghadap Bapak Kepala Sekolah. Inilah yang aku takutkan selama ini.

Saat melintasi jalan menuju kantor kepala sekolah, Pak Mahmud melihatku. Karena kasihan, ia menarikku ke sampingnya, lalu berbisik, "Saya tidak bisa membicarakan masalahmu dengan Bapak Kepala Sekolah, karena kamu selalu berkata, 'Ini adalah kali yang terakhir...,' tetapi kamu tetap terlambat seperti biasanya."

Air mataku mengalir dan aku berusaha untuk mengatakan bahwa ini adalah yang terakhir kali. Namun aku sadar bahwa itu tidak berguna, karena tak seorang pun mempercayaiku.

"Apakah kamu mau berjanji untuk datang pagi hari di masa-masa mendatang? Berusahalah untuk tidur lebih cepat, hai anakku," ujar penjaga sekolah itu dengan lembut. Aku menunduk-nundukkan kepala tanda setuju. Sebelum mengetuk pintu, ia berkata "Ini adalah kali terakhir, setelah itu aku tidak akan campur tangan lagi selamanya. Mungkin mereka akan memanggil ayahmu atau mengeluarkanmu dari sekolah bila kamu terlambat lagi."

"Masuklah!" seru Kepala Sekolah. Sambil memandangiku dari balik kaca matanya, ia mencibirku, "Ini kali yang terakhir, iya kan?"
"Maafkanlah Pak, kali ini maafkanlah anak ini. Ia telah berjanji padaku untuk datang pagi hari...," kata Pak Mahmud.
Kepala sekolah memotongnya dengan kesal, "Saya akan menghukummu, Pak Mahmud, bila kau membuka pintu lagi untuk dia. Sekarang pergilah kau ke kelasmu!" sergahnya seraya menundukkan kepala sambil membolak-balik kertas-kertas di mejanya.

Pak Mahmud memegang tanganku dan membimbingku ke kelas. Setelah mendengar bisikannya, Pak Guru menyuruhku dudk di tempatku, sementara mata semua siswa tertuju padaku. Pak Guru memulai pelajaran dan aku tidak mengerti apa yang dikatakannya tentang esok hari. Saat itu aku sibuk memikirkan berbagai macam hal, dan pertanyaan yang ada di benakku adalah: "Bisakah aku menepati janjiku?"

Suara Pak Mahmud terus mengiang di telingaku, "Rupanya kau tidak tidur lebih cepat. Tidurlah lebih sore, anakku, agar kau dapat bangun lebih pagi!"

Sore hari itu, hal pertama yang aku lakukan adalah melaksanakan pesan Pak Mahmud, sampai-sampai ibuku gembira dan menciumku saat kukatakan padanya, "Ibu, aku ingin tidur lebih cepat malam ini."

Aku sungguh gembira bisa bangun dari tidur saat fajar masih menyingsing. Sementara ibuku masih tidur. Anehnya, ayahku juga tidur pulas. Aku sangat riang, sambil mengenakan pakaian dengan tergesa-gesa. Aku akan membuktikan pada semua orang bahwa aku bukan lagi anak bodoh dan malas. Aku akan menjadi murid pertama yang masuk hari ini. Aku akan membuat Pak Mahmud dan semua murid takjub.

Aku membereskan pakaian dan tas yang telah kupersiapkan kemarin sore ada di dekat pintu, seakan-akan sedang menantiku. Kututup pintu pelan-pelan agar ibi tidak terjaga dari tidurnya.

Aku berjalan setengah berlari meski matahari belum terbit. Sepoi angin pagi yang sejuk itu mendorongku untuk berlari. Setiap orang yang berpapasan denganku di jalan memandangiku, inilah yang membuatku bangga.

Aku terus berlari seakan terbang ke udara. Rasa heran orang yang berpapasan denganku di jalan tampak jelas di wajah mereka. Rasa senangku makin besar saat langkahku makin dekat dengan sekolah.

Aku memandang sekolah dengan perasaan senang. Sementara pintunya masih tertutup.
"Aku akan mengejutkan Pak Mahmud," kataku dalam hati.
Aku melangkah menuju pintu, lalu kuketuk berulang kali, namun tidak ada sahutan. Aku ketuk sekali lagi denga lebih keras dan kupasang telingaku dengan saksama.

"Ia telah bangun," ucapku dalam hati. Aku dengar bunyi langkah kaki mendekat. Kemudian ia membuka pintu sementara kedua matanya setengah terbuka. Ia terkejut seraya bertanya, "Apa yang kau inginkan?" Saat melihat tasku, Pak Mahmud tertawa terbahak-bahak lalu berkata, "Tidakkah kau tahu hari ini hari libur resmi?"

Aku mundur sambil menyembunyikan tasku. Ini sungguh kejutan yang tidak menyenangkan. Aku tertawa sendiri. Kini aku sadar mengapa orang-orang yang berpapasan denganku keheranan melihatku.©

Sumber: Bingkisan Rembulan (Kamal as-Sayyid)
Kejutan yang Tak Menyenangkan Kejutan yang Tak Menyenangkan Reviewed by Khyarul Arham on 6:08 PM Rating: 5

No comments:

Kritik dan saran anda adalah sebuah motivasi bagi kami... Insya Allah. :)
Mengoreksi bukan berarti merasa paling benar, sedang yang lain salah. Merasa paling benar itu salah. Tetapi tidak membenarkan yang benar itu juga salah.... و الله علم

Theme images by chuwy. Powered by Blogger.